Selama ini saya tidak mengucapkan selamat natal dan tidak ada yang marah tuh. Kalau dikaitkan dengan agama, selama tidak diwajibkan ya saya tidak laksanakan.
Dulu saya berkali-kali tinggal di rumah kos yang pemiliknya Kristen, waktu natal saya di kos dan tidak mengucapkan selamat natal, beliau santai aja dan hubungan kami tidak bermasalah. Teman dekat saya juga ada yang Kristen dan Katolik, saya pun tidak pernah mengucapkan natal dan mereka santai saja. Kemarin saya juga tidak mengucapkan selamat natal pada siapapun. Belum ada yang ngambek sama saya.
Kenapa saya tidak mengucapkan selamat natal?
Karena meskipun saya tidak mengucapkan selamat natal dan tidak ikut merayakannya, tetapi saya menunjukkan sikap menghormati dan toleransi. Menurut saya itu yang lebih penting :)
Sebagai warga Jawa Timur, menurut saya MUI tidak salah, maksudnya, MUI adalah majelis ulama Indonesia kan? Tugas mereka memang seperti itu. Jangan menganggap mereka mau mengadu domba atau menebarkan paham intoleransi.
Saya mau kasih contohkan diri sendiri ya, saya muslim, tetapi saya tidak pernah meminta atau memberi kode untuk diberi ucapan selamat hari raya, jika teman non muslim tidak mengucapkan selamat hari raya pada saya, tidak pernah terbersit pikiran mereka benci pada saya, apalagi menganggap teman non muslim yang tidak mengucapkan selamat hari raya sebagai orang yang intoleran.
Semua ini hanya soal pilihan masing-masing individu.
Jika ucapan selamat ulang tahun yang sifatnya lebih personal masih ada yang tidak mau memberi ucapan, kenapa harus membesar-besarkan persoalan ucapan natal sih? Kurang kerjaan.
Tidak perlu membanding-bandingkan ucapan satu ulama dengan ulama lainnya. Membandingkan ucapan ulama, lalu menganggap ulama yang boleh mengucapkan natal sebagai orang yang cerdas dan toleran, sedangkan yang tidak membolehkan sebagai orang yang kolot dan intoleran itu salah. Kalau yang berpikiran seperti ini adalah non muslim, okelah saya masih bisa paham, mereka tidak belajar agama Islam. Tetapi jika yang berpikir seperti itu adalah muslim, kemungkinan besar ada pelajaran agama yang terlewati.
Sama halnya umat Kristen dan Katolik yang punya anggapan gereja dan komunitasnya itu "penting", sehingga mereka tidak mudah pindah gereja (saya tidak tahu lebih jauh sepenting apa, tapi banyak teman saya yang memilih beribadah di gereja yang jauh padahal ada gereja di dekat rumah/ kos),
dalam Islam juga ada yang dianggap penting, yakni pendapat ulama yang dianggap benar, kalau di Jawa Timur ada istilah "opo jare Kyai" atau "apa kata Kyai", nah orang yang mengikuti Kyai ini akan menganggap perbuatan dan ajaran Kyai itu benar, tidak peduli walaupun nggak masuk akal.
Yang sering terlupakan adalah jumlah ulama ini sangat banyak dan berbeda-beda fiqih yang dipelajari.
Ada ulama yang mewajibkan menggunakan jilbab dan ada yang tidak, ada yang mewajibkan bercelana cingkrang dan ada yang tidak, ada yang membolehkan mengucapkan natal dan ada yang tidak.
Ulama ini manusia, yang berguru pada guru yang berbeda-beda, jika gurunya berbeda ya hasilnya pasti juga berbeda.
Gini deh, kalau saya sebagai muslim di Indonesia yang tidak mengikuti aliran mayoritas masih suka dibully karena ramadhan dan lebarannya kadang berbeda dari mayoritas muslim di Indonesia, padahal aliran yang saya ikuti
menggunakan perhitungan dan dasar yang tidak ngawur dalam menentukan hilal. Bagaimana mungkin non muslim yang minoritas berharap diberi ucapan selamat natal oleh semua muslim di Indonesia?
Komentar
Posting Komentar